Celotehan #2 : Sekarang
[PERSONAL] Aku tersadar--yang telah terjadi di kelas sebelas masih belum apa-apa. Sekarang, mendengar ini saja sudah mengganggu pikiran:
"Dzul...kamu mau ikut yang internasional? Bagi waktu ya. Soalnya kamu kan sudah kelas 12, bentar lagi lulus. Kamu juga persiapkan buat kuliah nanti..."
Waktu terus berjalan--tapi keraguan ini malah ikut berjalan. Mungkin, ini semua muncul karena ketidaksiapanku menerima apa yang sedang terjadi. Masuk ke kelas 12 dengan segala macam guru dan materi kelas atas, ikut bimbel supaya lulus SBMPTN, sambil belajar buat kedepannya dan mengawasi angkatan selanjutnya dalam keorganisasian.
Jujur, tanpa adanya rumor-rumor ataupun pembicaraan mengenai guru, aku pun akan lebih santai menghadapinya. Sebenarnya, aku belum merasakan bagaimana diajar oleh guru-guru yang dimaksud di atas. Tapi, mengingat bagaimana pikiran dapat diganggu oleh rumor-rumor seperti itu plus kurangnya pengetahuan dan keterampilan di bidang yang mereka ajari--cukup kukatakan aku merasa gugup diajar mereka.
Belajar aja dulu. Lama-lama terbiasa kok. Setiap guru kan punya sifatnya masing-masing.
Lalu, bimbel supaya lulus SBMPTN. Ini sebenarnya bukanlah sebuah hal yang harus kupikirkan dalam-dalam. Malah, tidak usah dipikirkan sama sekali, ikuti saja programnya, nanti in sya Allah lulus dengan baik.* Masalah utama yang mengganggu adalah mengatur waktu supaya belajar di bimbel plus rumah bisa dan tugas bisa selesai.
Sesekali bermain tidak apa-apa. Yang penting waktu belajar serius. Kita kan manusia, asalkan bagus mengaturnya, semuanya selesai.
Belajar kedepannya (red: belajar lomba) sempat mengkhawatirkanku. Apakah aku dapat belajar di sela-sela kehidupan kelas 12 dengan tugas dan bimbelnya? Dengan materi yang "tidak mudah" dan waktu yang sebentar, apakah aku cukup mempelajari soal-soal tersebut? Semua kekhawatiranku mengenai lomba mirip dengan yang di atas.
Kata orang tuaku, "...Ai maunya apa?...Kalau mau kimia, sok belajar yang rajin. Nanti, kita kan bisa minta keringanan ke sekolah. Ini sudah rezeki Ai, jalanin aja. Toh, Allah tau yang terbaik kok buat Ai."
Terakhir, menjadi pengawas angkatan selanjutnya. Katakanlah, harapan seorang pengurus yang akan turun jabatan, aku ingin agar apa yang telah kuurus selama kurang lebih setahun menjadi lebih baik lagi. Plus ditambah mengajari materi supaya bisa ikut lomba tahun depan--semuanya kembali ke masalah mengatur waktu dan stress.
Saat ini, aku teringat kembali. "Jangan cari prestise di mata orang-orang. Capek dan menyusahkan. Makanya, cari ridho-Nya aja, kan Dia yang tahu segala hal yang telah kita lakukan buat sampai tujuan."
- #2 -
Apakah ini semua hanyalah pembenaran belaka? Entah, aku pun tidak tahu. Aku berharap ini bukanlah menjadi pembenaran untuk kabur dari masalah--tetapi, sebagai tinjauan dan penyelesaian atas apa yang aku alami. Bisa saja ini hanyalah sementara dan kekacauan yang sedang dirasakan hanyalah bisikan setan.
Apapun itu, yang jelas:
"...Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." [HR. At-Tirmidzi]
- #2 -
(A/N : Selesai menulis ini, ada rasa lega tersendiri karena apa yang dipendam telah dikeluarkan. Ini adalah tulisan personal, jika tidak suka tidak usah dibaca.)
Kalo gugupnya pas bio bisa ditolerir kok
BalasHapusWKWKKWKW
Hapus