Celotehan #4 - Спасибо Москва
Pada 1 September 2018, aku pergi meninggalkan kehangatan rumah untuk mencari pengalaman di luar negeri, tepatnya di Moskow, Rusia.
~ #4 ~
Sejujur-jujurnya, dari dalam diriku, aku pun ternyata masih tak percaya saat aku dipanggil untuk mengikuti lomba di sana. International Olympiad of Metropolises, katanya adalah lomba yang diselenggarakan dalam acara ulang tahun Moskow.
Di sini pun, mungkin aku terus berpikir. Moskow, sebuah kota maju dalam negara maju (walaupun secara teknis sudah tidak tapi ya apalah), sudah bisa menyelenggarakan kompetisi sebesar ini dan juga mengundang banyak kota. Sulit dipercaya bahwa Jakarta merupakan teman baik dari Moskow. Memang sulit dipercaya.
Terlepas dari itu semua, aku menemukan diriku belajar untuk lomba tersebut. Tidak mengikuti pelajaran sekolah untuk belajar sambil praktik menggunakan alat. Memang, sih, enak bisa engga masuk sekolah, tapi, tugas juga menumpuk, menimbun, dan menggunung (saya mengakui ini hiperbola yang menjadi-jadi *hehe*).
Pokoknya, aku menemukan diriku sendiri berada Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta (CGK) di malam hari. Mendapat boarding pass QA, naik dari Jakarta-Doha, setelah itu Doha-Moskow, dan pergi bersama orang-orang terpilih juga. Masuk ke imigrasi, dan masuk
ke pesawat, lalu transit, lalu naik pesawat lagi, dan akhirnya sampai di bandara sana.
Impresi pertama Moskow adalah bahwa kota itu dingin dan juga terang. Dalam bahasa sederhana, kotanya lumayan terang di daerah yang cukup dekat ke kutub utara. Selain itu, kotanya juga tidak terlalu bising dan dipenuhi oleh berbagai polusi. (Bahkan, setelah ku telurusuri jalanannya, polusi dari hal-hal sia-sia juga tidak ada *wow*)
Lanjut, disambut oleh perwakilan dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) untuk Rusia dan Belarus di sana. Beliau bernama Енджая (Enjay) dan terus mendampingi kami yang kurang lancar bahasa Inggris apalagi bicara bahasa Russia.
Sungguh ironis bahwa pelajar perwakilan kurang lancar berbahasa Inggris (setelah ku pikir-pikir, orang-orang pecahan Sovietpun masih banyak yang tidak bisa bahasa Inggris, jadi ya tidak apa-apa juga).
Selama seminggu, aku menginap di Hotel Azimut Smolenskaya (Смоленкая). Cukup dekat dengan beberapa minimarket dan juga agak dekat (red: lumayan jauh) dengan metro di Moskow. Kalau mau dibandingkan, hotel jni jauh lebih besar dan mewah daripada Hotel Amaris di Padang. Dari sisi ruang kamarnya, hotelnya lumayan luas dan tidak berdesak-desakan. Kekurangannya hanya saja lift yang dipakai tidak efisien (sehingga lama untuk bolak-balik).
Saat ini pula, seharusnya kusebutkan bahwa orang-orang yang tinggal di utara sana memiliki rambut yang pirang. Juga, badannya jauh lebih tinggi dan besar daripada orang-orang yang tinggal di Khatulistiwa. Jikalau dikira-kira, kayaknya dan sepertinya, badan mereka beradaptasi untuk tahan empat musim sedangkan kita untuk dua musim saja.
Faktanya, meski jauh dalam ukuran badannya, kebiasaan mereka adalah tetap menghargai orang lain. Maksudnya, salah satu kebiasaan yang kutemukan adalah berbaris rapi di eskalator supaya orang-orang yang terburu-buru dapat melintas dengan cepat dan tak terganggu. Juga, aku kagum dengan gaya hidup mereka yang tergolong cukup sehat (sering jalan dan trotoar yang lebar) serta situs-situs berharga yang dijaga dan dipelihara dengan baik.
Situs berharga yang kukunjungi meliputi Red Square dan Kremlin. Kedua tempat tersebut merupakan tempat bersejarah dan diisi oleh situs yang estetik untuk difoto. Sebut, Gereja Santo Basil yang menunjukkan kekhasan Kristen Ortodoks dan mall ГУМ (Gum, tempat seperti Grand Indonesia). Kremlin sendiri adalah kompleks yang berisi Istana Presiden Russia, taman bunga, dan gereja yang pernah dihuni oleh masyarakat Moskow dulu. Setelah PDII, benteng Kremlin dihancurkan dan penduduk Moskow menyebar dan membentuk kota yang konsentris itu.
Kembali ke topik utama, pembangunan kota yang pesat ternyata telah (secara tidak langsung) mengantarku untuk mengikuti lomba di sini. Bagaimana mungkin sebuah kota dapat menyelenggarakan lomba internasional tanpa adanya sumber yang melimpah dan pembangunan yang kuat?
Lombanya itu sendiri disajikan dalam tiga tahap. Tahap pertama disebut Blitz Contest, tahap kedua Practical Part, dan tahap terakhir Theoretical Part. Untuk kimia dan fisika, itu normalnya. Kalau matematika, tidak ada praktik, kalau informatika, tidak ada teori.
Tahap pertama Blitz itu semacam lomba IPA terpadu. Setiap tim (pesertanya saja) mengerjakan delapan puluh soal selama dua jam. Untuk kimia, ada soal yang sangat susah karena menggabungkan termodinamika (notabenenya fisika) tanpa menggunakan satuan mol. Selebihnya, hampir sebagian besar adalah soal hitungan, sedangkan teorinya hanya sedikit (sungguh disayangkan karena saya kira teorinya lebih banyak dan ternyata pikiran saya salah *sedih*). Waktu dapat hasilnya, kota Jakarta mendapat peringkat ke 6! Sebuah peningkatan tapi tetap saja soal yang dikerjakan tidak terlalu banyak, huh. Hadiahnya, hanya prize winner dengan sebuah piala.
Esok harinya, saatnya bagian praktik. Jujur, saat di sana, aku baru pertama kali menggunakan salah satu alat. Soal yang diberikan oleh juri adalah sintesis sebuah senyawa anorganik dan penentuan kadar senyawa anorganik tersebut. Cukup dikatakan, untuk soal pertama, aku lumayan bisa mengerjakannya tetapi untuk soal kedua, aku mengukurnya sangat jauh dari yang ditentukan oleh para juri. Alhasil, aku mendapatkan skor yang rendah (rendah dalam artian <3 untuk 20 skor)
Masuk ke teori di hari esok, akh memulai membuka soal dengan perasaan campur aduk. Kadangkala, aku merasa tidak percaya diri untuk mengerjakan soal yang tergolong cukup sulit. Eh, kenyataannya sulit aku ceritakan. Empat dari lima soal yang kukerjakan menghasilkan nilai lebih di atas rata-rata (terutama bagian gula dan biosintesis asam askorbat--ini paling memberikanku perasaan senang).
Total nilai yang kudapat adalah sekitar 44 dari 100. Mungkin untuk skala Indonesia itu jauh rendah, tapi untuk skala lomba tidak juga. Alhamdulillah, aku bersyukur mendapat medali perak dari acara di tanah asing ini.
Senang, iya. Alhamdulillah, aku bisa mendapatkan sesuatu di bidang yang kusukai. Dari sini pula, aku akan bertolak dan menentukan ke mana aku nanti mengarah setelah lulus SMA.
Di sela-sela lomba, aku jalan-jalan. Jadi, itu semua foto-fotonya merupakan hasil jalan-jalan setelah lomba, hehe.
Setelah seminggu menikmati (dan menjalani) kehidupan di Moskow, aku pulang di tengah malam. Mampir lagi ke Doha selama tiga jam dan kemudian balik lagi ke Jakarta di malam hari juga.
~ #4 ~
Terlepas dari itu semua, aku selalu memikirkan apakah ini merupakan pengalaman yang berhaga buatku. Sekilas, hanya sedikit yang dapat kuambil pelajarannya. Namun, ketika kuketik tulisan panjang ini, banyak hal yang dapat kukeruk dari pengalaman yang ternyata sangat mendalam.
Apa yang membuatku merindukan rumah mungkin bukanlah karena aku sudah capai di sana. Meski sudah hampir dua minggu yang lalu, aku baru menemukannya sekarang.
Pelajaran terpenting dari semuanya adalah bahwa di setiap saat, aku terus merindukan mereka. Mereka memberikan support sejak ada panggilan dari dinas dan juga sewaktu aku berangkat. Bahkan, aku di sana pun selalu ditelepon sekadar menanyakan kabar saja. Dengan perbedaan sekitar empat jam, aku yakin kasih sayang mereka tak terpengaruh hanya karena perbedaan waktu.
Hakikatnya, terima kasih aku ucapkan kepada kedua orang tuaku. Sejak awal sampai sekarang, kalian selalu mendukungku pada setiap saat.
Thank you and may this will be a good gift from your son to you two. Aamiin. Love.
Terharu&bangga!
BalasHapusWaah maasya Allah ... Terharu :( ... Luar biasaa . . Congratulations. . Sy bangga trhdapmu
BalasHapusSemangat teruss🎈🎈💕
BalasHapusKeren!
BalasHapus