Peribahasa: Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Tepian
Hai, sudah satu semester aku hiatus menulis di sini. Berbagai alasan bisa saja aku kasih, tapi buat apa karena intinya, aku balik! Yey!
Tema yang aku angkat sekarang berhubungan dengan peribahasa. Iya, kalimat keren yang jarang sekali dipakai di kehidupan sehari-hari. Kalaupun dipakai, hanya untuk membuat cerpen ataupun novel (itupun juga disuruh). Padahal, peribahasa mengandung kesatuan kata penuh makna dalam satu masyarakat. Menurutku, peribahasa malah menjelaskan berbagai warna dari sifat dan perilaku manusia.
Satu peribahasa yang menurutku sudah luntur maknanya di masyarakat Indonesia adalah ini. "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian," memiliki arti "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Ini dari kbbi.kata.web.id
Beberapa selancar halaman internet, aku menemukan makna lain yang diungkapkan. "Kalau mau keberhasilan, harus susah payah dahulu," intinya sih gitu.
Dengan mengabaikan apakah memang benar hubungan kausalitas dari susah-sukses itu keniscayaan, peribahasa tersebut menyatakan bahwa kesenangan dan hidup leha-leha berhubungan dengan sebuah kesusahan dan hidup kerja keras. Orang yang ulet bekerja dan mempersiapkan masa depannya dibilang akan mendapat hasil jerih payahnya kemudian hari.
Melihat lingkungan sekitar (yang jelas dari lingkungan sekitar rumah, sekolah, dan ranah media sosial), aku menemukan dua reaksi umum orang-orang terhadap orang sukses.
Pertama, banyak orang yang tidak mau berakit-rakit ke hulu, tetapi mendambakan berenang-renang ke tepian. Mereka malah sibuk bermain-main dan bersenda gurau padahal masa depan diri mereka masih buram dan belum disingkap takdir. Akhir-akhirnya, mereka mengeluh mengapa tidak melakukan ini itu di awal. Hal naas seperti itu terus terulang sampai mereka tersadar (jika terjadi).
Kok bisa terus-menerus? Pikiran manusia itu unik. Beri motivasi, maka satu tubuh akan membara mengejar impiannya. Di lain sisi, beri ejekan, maka muncul keengganan di setiap sisi tubuhnya. Pedihnya, di hadapan impian, manusia menjadi tidak karuan. Diri mereka sendiri yang memberi harapan cemerlang satu waktu sekaligus membutakan dengan putus asa yang mendalam di waktu yang lain.
Kedua, banyak yang hanya melihat berenang-renang ke tepian. "Wah, dia orang sukses. Pasti dari lahirnya dari keluarga berada," salah satu contohnya seperti ini. Contoh lain, "Dia teman kamu? Kenalin dong, biar bisa dapat sedikit." Percakapan serupa seperti, "Enak ya, kamu sudah santai, sedangkan aku masih..." juga bagian dari sikap melihat satu sisi.
Secara tak sadar, ucapan kagum dapat melukai sang penerima kekaguman. Meski dengan niat baik, sang penerima sesekali merasa bahwa orang hanya melihat dirinya setelah dia sukses. Kasus terburuk jika penerima malah lanjut berprasangka buruk dan berpikir bahwa orang hanya memanfaatkan dirinya sendiri. Di sisi lain, ucapan itu membawanya ke relung kesepian. Jerih payah yang telah dibangunnya hanya diapresiasi sebagian oleh orang-orang luar.
Dari uraian di atas, peribahasa sederhana itu ternyata mengandung kebijaksanaan yang mendalam. Susah payah mengejar impian dengan berbagai faktor luar digabung dengan bertahan menghadapi diri yang sering menjatuhkan semangat dan menghadapi ucapan orang-orang yang kurang apresiatif membawa pembahasan ini ke bagian akhir.
Memang tabiat manusia untuk mencari cara yang mudah dan melihat sesuatu dengan sebelah mata. Sebagaimana padi menguning setelah berbulan-bulan, kita hanya melihat hasil padi yang telah diolah menjadi beras dan melupakan kerja sampai padi itu matang. Jikalau batu besar pun bisa diangkat, maka sesusah apa membuka sebelah mata dan melihat warna-warni manusia di dunia ini?
Apa yang kalian pikirkan? Aku terbuka dengan opini kalian. Sila tulis di komentar ataupun twitterku.
[P.S. Untuk kalian yang telah berjuang, terima kasih telah memenuhi dunia ini dengan warna-warni usahamu. Semangat!]
Mungkin kalimat yang harus ditanamkan di masyarakat ketika bercakap dengan orang yang sudah sukses lebih dulu bukan semacam, "Enak ya, kamu sudah santai, sedangkan aku masih..." tapi, "Hebat ya, sudah berjuang dari lama, sedangkan saya baru memulai"
BalasHapus